Sabtu, 14 September 2013

The Crazy-Able Trip To Singapore (PART 1)

 Ini adalah pengalaman super gila. Gila, tapi ya jadi juga kita pergi dengan persiapan setengah matang dan seadanya. 4 September 2013, memang sudah kita tentukan untuk pergi ke Singapore. Tanpa mengambil cuti atau apapun dan hanya berbekal libur 2 hari kerja, kita pun nekat pergi.

Menunggu taksi dari perempatan Kuningan
Setelah sebelumnya liputan soal warga di Waduk Ria Rio yang rencananya akan direlokasi pada 4 September ini terkait rencana Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo yang akan merubah Waduk Ria Rio menjadi taman hijau, gedung opera, dan hotel bintang lima disini. Namun, nyatanya penggusuran warga ini diundur menjadi satu bulan mendatang. Oke, setelah Live Report keadaan dan situasi dan pengunduran penggusuran ini, aku dan .... Oh ya perkenalkan ... campers spesial sekaligus pria yang sekarang jagain aku, Joidy Karlo Dompas alias Jody ... kita akhirnya sekitar pukul 14.00 WIB Balkan alias balik kantor. Sampai di kantor, kita packing seadanya. Aku membawa 2 tas ransel yang. Ransel pertama berisi barang-barang dan dokumen penting, dan tas kedua berisi Netbook dan 3 stel pakaian. Sedangkan Jody hanya membawa 1 tas ransel berisi Mac Book dan 3 stel pakaiannya. Dengan packing seadanya, akhirnya kita berangkat dari kantor Berita Satu TV di Berita Satu Plaza, Gatot Subroto menuju Terminal 2D Bandara Soekarno Hatta. Setelah menunggu taksi dari perempatan Kuningan, akhirnya kita mendapatkan taksi Express pada pukul 17.30 WIB. Dengan terburu-buru sambil melepas lelah di dalam taksi, dan alhamdulillahnya sore itu tak terlalu padat, akhirnya kita tiba di terminal 2D Bandara Soetta. Ongkos taksi dari perempatan Kuningan ke terminal 2D Bandara Soetta menghabiskan sekitar Rp. 110.000 termasuk biaya tol.
Jody dengan wajah parno naik pesawatnya XD
 Tiba di terminal 2D kita langsung check in di Gate D4 penerbangan Tiger Airways Jakarta - Singapore TR2273. Setelah menunggu sambil was-was karena takut uang yang kita bawa tidak cukup menafkahi kita di Singapore nanti. Bayangkan, kami hanya membawa uang Rp. 3 juta diluar ongkos tiket pergi pesawat. Bermodal nekat dan Bismillah, kita masuk ke dalam pesawat. Akhirnya Tiger Airways take off pada pukul 19.40 WIB. Kita untungnya mendapat tiket murah dengan memesan secara online dua hari sebelum keberangkatan di nusatrip.com. Kita mendapatkan tiket Tiger Airways seharga Rp. 299.900 per orang. Jadi, untuk 2 orang harus membayar Rp. 599.800. Harga ini belum termasuk airport tax di Bandara Soetta. Jadi, saat check in, kita harus membayar Rp 150.000 per orang airport tax tujuan international. Jadi, untuk dua orang, kita membayar Rp. 300.000.
Selama dalam pesawat, tingkah Jodi lucu sekali. Dia hanya diam saja menahan rasa takutnya :P. Memang saat berada di atas awan, guncangannya sangat terasa sekali. Cuaca memang kurang baik di langit Jakarta menuju Singapore. Saat akan tiba di Singapura, kita juga akan diberikan form imigrasi untuk masuk ke Singapura.
Changi Interantional Airport, Singapore
Jody mengecek BB-nya yang selama di Singapore tidak dia fungsikan.
 Dengan izin Allah, akhirnya kita tiba di Changi International Airport pada pukul 22.30 waktu Singapura. Bandara Changi sangat besar dan bagus. Semua fasilitas tersedia dan memang didesain mall berada di dalam Bandara. Jody langsung mengecek jaringan seluler di BB-nya yang memang ternyata tidak berfungsi dan harus mengganti paket roaming internasional. Karena yang dipakai operatornya adalah Axis, kalau memang mau menggunakan paket roaming Axis memberikan layanan Rp. 49.000 per hari paket roaming Internasional. Atau kalau memang mau bisa membeli kartu seluler yang baru di Singapura biasanya Starhub. Liat di billboard Starhub, harga kartu perdananya $18 SG. Tapi, nggak perlu pusing soal komunikasi kalo BB kamu ada aplikasi wifi-nya. Kebanyakan di Singapura terdapat layanan wifi gratis. Jadi, BB aku yang memang ada aplikasi wifi-nya masih bisa BBM-an, whats-app, twitter, facebook dan jejaring sosial lainnya. Kalo untuk telepon dan sms ya memang harus pake pulsa roaming. Tersedianya wifi gratis ini juga ngebantu kita komunikasi lewat internet baik lewat smartphone maupun dari netbook/ laptop/ macbook.

Tempat istirahat di Lounge Transit Gate E5 Changi Airport Singapore
Ambil Posisi, siap-siap bobo gratis nan nyaman di Changi
Karena memang niat kita backpacker, jadi segala apapun yang meminimalisir pengeluaran kita lakuin deh, termasuk menginap satu malam di bandara Changi. Hihihi...terlebih karena memang waktu sudah menunjukkan jam 23.00 waktu Singapura. MRT pastinya juga sudah tidak ada karena tutup pada pukul 23.00. Sebelumnya aku sudah searching di google mengenai tempat peristirahatan di Changi Airport dan ditambah dibantu dengan buku panduan Bandara Changi kami menyusuri dan mencari-cari transit lounge di Gate E5. Banyak banget turis-turis yang sedang rebahan di sofa merah, ada yang tidur sambil selimutan, baca buku sambil selimutan, browsing pake laptopnya dan lain-lain. Untungnya, kita mendapatkan sofa merah untuk rebahan itu di paling pojok sayap kiri transit Lounge Gate E5. Dan ada 2 sofa merah. Jody langsung mengambil posisinya. Katanya, ia sangat lelah menahan gugup dan ketakutannya saat penerbangan tadi. Hihihihi. Sementara aku, masih belum bisa tidur. Masih berusaha mengabarkan orang tuaku dan sodara-sodara ku di rumah melalui Line, twitter dan facebook aku. Oh ya, jangan lupa untuk membawa colokan kaki tiga untuk menge-charge BB atau apapun, kebanyakan di Singapore pakai colokan kaki tiga. Tapi, di Changi Airport ini kalau memang tak ada colokan kaki tiga, bisa men-charge BB dengan kabel data. Tinggal dicolok aja.
Masih main netbook, wifi gratis XD
 Di Changi Airport dingin banget! Jadi kalau mau nginep di lounge-nya, siap-siap bawa jaket atau selimut kaya bule-bule yang lain. Sebenernya, sofa merahnya lumayan nyaman lah untuk ukuran tidur gratisan, tapi dinginnya bener-bener nggak nahan. Jadi kebangun lagi, kebangun lagi cuma buat meringkel kedinginan. Mungkin Jody yang ngelihat aku kedinginan, akhirnya membuka sweater abu-abunya dan menyelimutinya ke badan aku. Aku jelas nolak sweater-nya, karena pasti dia juga akan kedinginan. Tapi, Jody dengan tampang galaknya mulai memaksa aku untuk menerima sweaternya. Ya sudahlah, semoga malam ini bisa tidur nyenyak dengan tambahan hangat sweaternya. Eaaaa :P
Narsis Mode On di Changi Airport
Di Singapura jam 06.00 pagi itu masih gelaaaappp....padahal rencana awal aku adalah jam 5 pagi bangun, jam 6 langsung nyari MRT. Tapi, karena suasana masih gelap di luar sana, akhirnya aku pun bermalas-malasan sambil men-charge BB. Jody? Hmmm jangan tanya, dia masih tidur nyenyak sampai jam 7 pagi meski sudah aku bangunin berkali-kali. Akhirnya sekitar jam 7 pagi lewat, Jody bangun dengan mata masih merah karena kecapekan, tapi udah membuat dirinya lumayan seger dan mau diajak jalan untuk membersihkan diri. Cuci muka dan gosok gigi. Kita juga tak lupa, meski baru bangun, belum cuci muka dan belum gosok gigi, tetap narsis! Jepreetttt!!!! Hihihihi....
Menunggu alias kebingungan naik MRT Hihihi...
Setelah membersihkan diri di toilet, cuci muka dan gosok gigi, kita langsung keluar Changi, tapi sebelumnya harus melalui proses keimigrasian terlebih dahulu. Oh ya, jangan lupa ambil peta Singapore dan petunjuk bagi traveller di rak deket pengisian kartu keimigrasian. Saat melalui paspor dan keimigrasian di-cek, jangan sampai lupa juga ada sobekan kertas dari kartu keimigrasian yang nggak boleh hilang. Sobekan kartu imigrasi itu nantinya akan diminta pas keluar dari Singapura. Setelah keluar dari gerbang kedatangan, kita kebingungan mencari MRT hehee... akhirnya setelah tanya sama Mba-Mba berdarah India di pusat informasi, MRT itu ada di paling ujung kanan dari gerbang kedatangan. Lurussss aja sampai mentok ada eskalator ke bawah, nah udah deh turun paling bawah itu udah MRT. Sempet kebingungan juga pas mau naik MRT, beli Single Trip atau pake EZ Link Card? dari persiapan sebelumnya yang udah aku baca-baca dari blog-blog dan cerita-cerita orang yang udah pernah ke Singapura mendingan memang menggunakan EZ Link Card.
EZ Link Card bisa kita beli di tempat passenger service yang tepat di samping gate in MRT. EZ Link Card dijual seharga $12 SG yang udah termasuk dengan isinya $ 7 SG. Selain EZ Link Card sebenarnya juga ada STP (Singapore Traveller Pass) tapi kalo dipikir-pikir lebih enakan EZ Link Card karena selain jadi milik kita, berlaku juga sampai 5 tahun ke depan, dan bukan cuma buat MRT aja, misal kita jajan di Sevel atau di tempat jajan yang pake EZ link Card juga jadi mudah banget. Jadi, kita memilih pakai EZ Link Card untuk memudahkan akses kemanapun menggunakan MRT. Kita membeli 2 EZ Link Card berarti seharga $24 SG.
Sesuai rencana, pagi ini kita harus mencapai daerah Lavender untuk mencari Hostels, sebelumnya aku sudah mencari-cari Hostels yang murah dan yang rekomended, setelah cari di agoda.com terpilihlah Backpackers@SG Hostels di daerah Lavender. Sekarang adalah bagaimana kami mencapai Lavender dari Changi Airport. Aku mesti harus bertanya sama Bapak-Bapak Security service yang agak BT pas ditanya. Mungkin memang sebenarnya kita nggak perlu nanya, karena papan-papan jurusan MRT dan peta lokasi di daerah sekitarnya itu sudah terpampang jelas di tengah-tengah MRT stasiun.  "You just go to Tanah Merah first, then you can go to Lavender," jawab Bapak-Bapak itu singkat.
Di dalam MRT Changi Airport - Tanah Merah
Akhirnya, kita menaiki MRT yang ke jurusan Tanah Merah yang ke Joon Koon, jangan pilih yang ke Pasir Ris ya kalau mau ke Lavender, Kallang dan daerah sekitarnya. Memasuki MRT yang serba cepat dan on time itu, jadi berpikir ini sangat sangat bagus jauh lebih bagus daripada transportasi di Jakarta yang hmmmm....memang murah seperti Transjakarta dan juga dapat menjangkau seluruh Jakarta hanya dengan Rp.3500 rupiah dan juga ada transit-transitnya juga atau dibandingin dengan kereta di Indonesia, hmmm ini lebih sangat bagus. Selain sangat cepat menjangkau tempat tujuan, MRT ini datang on-time, fasilitas di dalamnya juga masih bagus. Semua serba cepat pokoknya
Wajah kelaperan si Jody...wkwkwkkwkwk
Setelah tiba di Tanah Merah, kita transit ke tujuan Joon Koon dan berhenti di stasiun Lavender. Cuaca di Singapura hari ini tidak bersahabat. Keluar dari stasiun Lavender, daerah Lavender sudah basah semua ditimpa hujan deras. Akhirnya kita memutuskan untuk makan terlebih dulu di Kopitiam di stasiun Lavender sambil mencari jalan untuk sampai ke Backpackers@SG Hostels di 111J King George's Avenue. Masuk di Kopitiam, mencari-cari makanan sesuai selera lidah dan yang nggak bikin kantong jebol pokoknya. Rata-rata makanan disitu dari $3SG sampai $8 SG. Untung kita nemu Nasi Lemak seharga $2.80 SG. Agak aneh juga sih, kita pagi-pagi udah makan makanan berat aja. Lihat sekeliling, orang-orang yang kebanyakan ekskutif muda atau orang-orang yang mau kerja, makannya ya cuma bihun atau telor setengah mateng pake roti dan kopi. Haha...ga perdulilah, kita kelaperan dan rasanya kalo nggak makan nasi itu nggak makan. Akhirnya kita makan Nasi lemak untuk 2 orang berarti seharga $5.60 SG ditambah minum air mineral satunya adalah $1.50 SG jadi untuk 2 botol seharga $3SG.
Setelah makan dan bla bla bla.... kita kebingungan di luar sana masih saja hujan. Kita juga masih kebingungan letak 111J King George's Avenue. Setelah mempelajari peta dengan seksama dan udah BT nunggu hujan di dalem Kopitiam, akhirnya kita keluar. Waktu menunjukkan pukul 9 pagi waktu Singapura. Yang pertama kita cari adalah V Hotel yang ternyata berada persis di belakang stasiun MRT Lavender. Akhirnya menyusuri jalan Jellicoe Road, French Road, dan King George's Avenue sambil hujan-hujan. Mana sempat kesasar dulu dan bertanya pada Bapak-Bapak di toko material. Seharusnya kita dari French Road tinggal belok ke kanan, kita malah ke kiri yang akhirnya lumayan jauh kesasarnya. Setelah balik arah sambil hujan-hujanan lagi, akhirnya dari French Road kita pilih ke arah kanan dan disitu tepat di depan King George's Building terpampanglah plang Backpackers@SG Hostels. Di samping kiri Backpackers@SG
Backpackers@SG dan mas-mas manis berdarah India hihihi
Hostels ada juga Traveller@SG Hostels yang disinyalir pemiliknya adalah satu keluarga hanya berbeda nama hostels hihihi..Setelah menaiki tangga hingga ke lantai dua, akhirnya tiba di resepsionis hostels dan disambut sama mas-mas berdarah India, logat India-nya masih kental banget pas dia ngomong pake Bahasa Inggris, tapi yang jelas mas-mas berdarah India ini yang aku belum sempet nanya namanya ini lumayan manis hehehe.... Aku akhirnya bilang mau nginep disitu satu malam tapi belum reservasi apapun lewat online, jadi mau reservasi langsung aja. Dia bilang oke ada orang yang juga mau check-out hari itu juga, jadi tempat tidur untuk 2 orang masih ada. Kita memilih 2 tempat tidur di dalam kamar yang satu kamarnya terdiri 4 tempat tidur bertingkat jadi ada 8 kasur. Satu malam untuk satu orang itu seharga $20SG berarti satu malam untuk dua orang seharga $40SG ditambah dengan uang jaminan kunci seharga $10SG yang nantinya pas kita check out dibalikin $10SG nya, hanya untuk uang jaminan kunci nggak ilang aja.
Sudah senyum sumringah di Backpackers@SG Hostel sambil wifi-an
Kunci yang dikasih itu sebagai akses kita masuk ke kamar sama kunci untuk 1 loker. Fasilitas yang kita dapatkan adalah wifi gratis, sarapan roti+selai+minum (susu kopi atau apapun) secara gratis dan kita bikin sendiri dan terserah mau kita ambil berapa banyak sampai jam 12 siang, mandi gratis, nonton tv gratis, ngecharge gratis, dan fasilitas kamar ber AC dan tempat tidur yang nyaman, sama peminjaman payung gratis.
Pemandangan King George's Avenue dari dalam kamar hostel
Nah, akhirnya kita berhasil dari Jakarta ke Singapura dengan ngebolang secara nekat dan otodidak hanya bermodalkan peta ke tempat yang aman untuk tinggal sementara di Backpackers@SG Hostels. Setelah menunggu sampai pukul 12 siang, kita akhirnya mendapatkan tempat tidur untuk menaruh barang dan berbaring sebentar. Oh ya, habis mandi kita berdua akan memulai perjalanan jalan-jalan kita di Singapura, So, tetep stay tune di blog The Crazy-Able Trip To Singapore Part 2 yaaaa..... see you!!! :)

Kamis, 28 Februari 2013

Beringin Kembar Part 2



Di depan Beringin Kembar
 Jogjakarta, 15 Februari 2013

Seperti yang sudah aku janjikan, aku akan kembali lagi mencoba tantangan Masangin alias berjalan melewati celah beringin kembar dengan mata tertutup pada Februari!
Yup! Dan aku telah berada di lapangan luas dengan intensitas cahaya matahari yang sangat cerah, udara hangat, dan angin berhembus-hembus kencang.
Di tengah-tengah proses shooting program drama untuk FTV Televisi di tempatku bekerja, aku dan kawan-kawan serta team-ku menyempatkan diri untuk mencoba tantangan Masangin.

Di Januari yang lalu (seperti di-tulisanku sebelumnya) aku sudah 3 kali gagal. Kini aku mencoba lagi, namun 3 kali mencoba gagal lagi X(

Berbeda dengan-ku, partner kreatifku Iwan si "Ababil Boy" dan Ass.produksi Ayu si "Bebek" mereka berhasil melewati beringin kembar dengan lancar. Apalagi si "Ababil Boy" itu, dengan semangat ia menyebrangi jalan dari teras Kantor Walikota Jogjakarta ke alun-lun. Di bibir lapangan, ia menutup mata-nya sendiri dengan saputangan yang aku bawa, kemudian tanpa ragu ia melangkah lurus ke depan. Aku hanya mengikutinya dalam diam. Dan sampailah ia, Ia berhasil melewati celah beringin kembar!

Begitu juga Ayu si "Bebek" yang dengan mulus melewati celah beringin kembar yang becek untuk pertama kali dalam hidupnya.

My Adore Teams! Sadryna - Ayu - Jackson "Jazz" - Iwan "Ababil Boy!"

Aku?
Aku hanya bisa cemberut dan mengerucutkan bibir. Iri melihat mereka yang lulus dalam tantangan itu.

Namun, setelah selesainya take terakhir scene di depan beringin kembar. Produser-ku mengajak-ku untuk mencoba lagi tantangan masangin ini.

"Sini! Saya kasih tau trik-nya," Bapak Tua berkata.

Aku mengikutinya ke bibir lapangan. Ia mengikat sapu tanganku di kepala untuk menutupi mataku. seketika pandanganku gelap. Namun sebelumnya ia mengizinkanku untuk melihat lurus ke depan, tepat di antara beringin kembar di depan sana.

"Nah, coba fokus. Sekarang apa yang kamu denger?" tanyanya. Di dalam kegelapan mata-ku, aku mencoba memfokuskan apa yang tertangkap dalam gendang telingaku.

Adzan.

"Adzan, Bang," jawabku.
"Oke. Celah beringinnya dimana?" tanyanya lagi.

Aku mengarahkan tanganku, menerawang. Aku merentangkan tanganku ke depan. Lurus.

"Suara Adzan dari mana?" tanyanya lagi.

"Dari lurus," jawabku.

Kemudian ia hanya mempersilakan aku berjalan ke depan. Aku -seperti sebelumnya- hanya merasakan gelap dan fokus berjalan ke depan. Terus berjalan sampai akhirnya aku merasakan cahaya di mataku lebih pekat dari sebelumnya. Aku berhenti sejenak.

"Fokus suara adzan dimana," kata Bapak Tua lagi.

Aku merentangkan tanganku berusaha menerawang darimana datangnya suara Adzan. Suara-nya berada di sebelah kananku. Aku melangkah serong ke kanan sedikit dan mulai berjalan lagi. Suara Adzan semakin dekat dan semakin dekat.

"Clup" kakiku mulai menginjak genangan air. Aku tahu, aku semakin dekat di antara celah beringin. AKu tak mempedulikan sendal Crocs-Biru ku dan kaos kaki hitamku yang basah. Aku terlalu senang dan yakin untuk melangkah ke depan. Aku melangkah lagi, melangkah lagi, sementara kakiku terus masuk ke genangan air.

Melewati genangan air menuju celah beringin kembar
Keep walking!

"CLUP!" kakiku nyemplung di genangan air
"Udah, buka," katanya.

Aku membuka sapu tanganku di kepala.

Waw! Aku sudah berada di tengah celah beringin kembar!

Aku berhasil!

Akhirnya!

Ternyata tips dan trik menghadapi tantangan masangin ini (salah satu-nya) adalah perhatikan semua yang ditangkap oleh indra pendengaran kita.

Untungnya saat itu tepat saat Adzan.

Bisa dibilang, Adzan menolongku dari jalan yang sesat :)

Intinya: "Kita memang harus fokus terhadap apa yang kita jalani, namun jangan sampai tidak memperhatikan dan merasakan apa yang terjadi di sekitar kita"


See you in the others my experience! :D




Langit Jogja memang Indah!!!!!










Sabtu, 26 Januari 2013

Beringin Kembar

Beringin Kembar - Alun-Alun Kidul, Jogjakarta

 Selasa, 22 Januari 2012.

Berawal dari sebuah skenario program drama yang aku garap, terdapat adegan yang berlokasi di beringin kembar. Aku langsung terarik dengan mitos-mitosnya dan langsung googling. Dari informasi yang aku dapat, banyak orang yang tidak lulus ujian melewati beringin kembar. Oke, aku sangat merasa tertantang. Aku yakin, amat yakin malah, kalau aku akan melewati celah beringin kembar itu.

Dan, di sinilah aku, di depan dua pohon beringin yang terpagari. Dengan hembusan angin yang lumayan kencang semilir-semilir menyapu kulitku, semangatku pun terasa berhembus sekencang angin. Aku langsung meminta pada Satriya, pacarku, untuk menutup mataku dengan kain penutup yang sudah aku bawa. Mataku terasa gelap dengan ikatan kencang yang melingkari mata dan kepalaku.

"Udah ... siap?" tanya Satriya. Aku hanya dapat menangkap suaranya. Aku mengangguk siap. Sebelum jalan, aku membiarkan telapak kakiku merasakan tanah gembur yang berpasir. Aku menggumamkan Bismillah, dan membulatkan tekad semoga aku lulus dalam ujian ini. Sementara, keyakinan penuh berada di dalam diri.

Aku mulai berjalan satu langkah. Satu langkah lagi. Langkah demi langkah yang aku rasakan lurus, yang aku usahakan lurus, dan yang aku pikirkan hanya lurus ke depan di tengah gelapnya mataku.

Lurus ... lurus ... lurus ...

Sampai akhirnya aku mendengar suara-suara beberapa orang tertawa. Dan suara Satriya mengagetkanku.

"Gimana?" tanyanya.
"Ini udah sampe?" tanyaku.
"Coba jalan lagi," katanya. Dan aku berjalan lagi sampai aku menginjak rerumputan.
"Udah injak rumput, kan?" tanya Satriya. Aku mengangguk.
"Yaudah lepas," katanya. Aku langsung melepas penutup mata. Betapa terkejutnya aku, aku melenceng jauh ke kiri dari celah beringin kembar dan malah menabrak sebuah keluarga yang tengah duduk-duduk di pinggir lapangan rerumputan.
"Aaaaa.... ini dimana?! Kok bisa?!" Aku menggerutu saking herannya. Sementara Satriya dan satu keluarga itu menertawakanku senang.

Kemudian, giliran Satriya yang mencoba tantangan "Masangin" ini. Aku menutup matanya, kemudian ia berjalan. Seperti aku, Satriya malah berjalan melenceng ke kanan dari celah beringin kembar. Aku mengikutinya melangkah sambil menahan tawa. Sementara sebuah keluarga di pinggir rerumputan yang tadi itu, memperhatikan aku dan Satriya yang berjalan, mereka tertawa-tawa melihat Satriya yang juga salah arah.

"Lurus aja," kataku.
"Masa dikasih tahu," kata Satriya.
"Kalo udah injek rumput berarti udah," kataku. Dan kakinya pun menginjak rumput. Ia langsung membuka penutup matanya dan langsung berekspersi heran dan kecewa. :D

Akhirnya kami memutuskan untuk mencoba berdua. Mata kami masing-masing ditutup dengan penutup kepala. Sempat terpikir olehku untuk bergandengan tangan, tapi Satriya malah bilang nanti susah jalannya. Baiklah. Jadinya kami tak jadi bergandengan tangan.
"Bismillah" meniti Asa pada Beringin Kembar
Dengan aba-aba, kami mulai berjalan masing-masing. Aku kembali lagi merasakan gelap di mataku, merasakan kembali pasir-pasir yang menyeruak di antara jari-jari kakiku, dan mencoba merasakan aura yang ada di hadapanku. Awalnya aku merasa masih lega masih bisa bergerak, namun ketika beberapa langkah ke depan, yang aku pikir sudah akan mendekati pohon beringin, aku merasa gelap dan ada perasaan aneh, ruang yang ada di depan ku terasa pekat.

Melihat dari foto di bawah ini, aku dan Satriya sudah salah arah dan berjalan berlawanan arah duluan. Aku ke sebelah kiri dan Satriya ke sebalah kanan dari celah beringin kembar.
Aku dan Satriya malah sudah melenceng dari awal dan bukannya lurus ke depan
"Mau kemana? Terus... terus aja .... hehehhe" seseorang berkata sambil terkekeh. Aku sudah tidak fokus dan sudah tidak percaya diri. Aku langsung membuka penutup mata dan melihat diriku sendiri yang sudah menabrak banyak orang yang sedang duduk-duduk di pinggir rerumputan sebelah kiri pohon beringin. Aku selalu nyangsang ke sebelah kiri terus!


Aku melenceng jauh ke kiri dan menabrak orang-orang yang sedang duduk di sana XD
Aku yang gagal, langsung berlari mengejar Satriya yang sudah melenceng jauh ke sebelah kanan. Ia sudah hampir menabrak anak-anak kecil yang sedang bermain galasin di tanah. Kakinya juga menabrak sendal seprang anak kecil itu.

"Ayo ... balik arah, belok kiri," kataku tersenyum-senyum.
"Ini siapa?" tanya Satriya.
"Aku, Sadryn!" jawabku sambil tertawa-tawa.
"Kamu udahan?" tanyanya masih sambil jalan ke depan dengan mata tertutup.
"Iya aku gagal lagi," jawabku.
Satriya melangkahkan kakinya dan kembali menginjak rerumputan.
"Udah injak rumput?" tanyaku tertawa-tawa.
Satriya tahu kalau sudah menginjak rumput berarti dia gagal dan melenceng jauh dari celah beringin kembar yang tanahnya tidak berumput, tetapi berair karena hujan semalam.

Satriya melenceng jauh ke kanan :D
Entahlah. Aku menjadi yakin pasti ada sesuatu hal yang tak dapat dijelaskan mengapa kami berdua tak bisa melewati celah beringin kembar itu. Dan mengapa banyak orangpun tak bisa melewatinya. Namun, sore itu, aku melihat dua orang cewek berjilbab dengan teman-temannya, mampu sampai melewati celah beringin kembar itu.

Tapi, aku tak akan menyerah! Aku akan mencoba kembali Masangin ini Februari 2013 mendatang. Do'akan! Semoga kali ini saya beruntung! :)



Sabtu, 22 September 2012

Fantastique Day in Dufan

Kamis, 20 September 2012 sebenernya hari kamis kemarin itu, aku nggak libur kerja loh...tapi karena kamu punya waktunya hari kamis dan jum'at liburnya, jadi kita memutuskan untuk jalan-jalan ke Dufan hari kamisnya.

Oke, kita berangkat dari rumah jam 12.30 wib dari rumahku dan sampai Dufan sekitar jam 13.00 wib. Wow... perjalanan hanya butuh waktu setengah jam dari rumahku (Kp.Gedong, Condet, Pasar Rebo) sampai ke Dufan Ancol, Jakarta Utara. Butuh waktu hanya setengah jam karena kamis 20 september 2012 adalah hari bersejarah untuk Jakarta. Pemilihan Gubernur DKI Jakarta dilaksanakan, jadinya jalanan juga tidak macet.
Flyer 50% Dufan September Ceria

Hari Pilkada juga menguntungkan juga sih, karena dengan begitu Dufan juga memberi Diskon 50%. Selain itu, juga bisa pakai Flyer Dufan juga sih. Dan karena diskon, tiketnya jadi seharga Rp. 110.000,- saja dari Rp.220.000,-
Masuk ke Dufan, kita disambut sama Maskot Dufan...badut kodok ini lucu banget! Kalau sama aku dia mau ya bergaya... tapi lihat kalo fotonya sama kamu, badut kodoknya melengos gitu...hihihihi



Oke, mainan pertama yang kita coba adalah Hysteria.... awalnya rada takut untuk naiknya. Tapi karena ngantrinya yang panjaaaaaaaang banget dan nganterinya juga bareng kamu....aku jadi gak deg-degan lagi buat naik Hysterianya. Coba lihat, panjanggg banget antriannya kan?

Antrian Panjaaaaaang
Akhirnya setelah kita mengantri selama 2 jam untuk ber-Hysteria yang kurang dari 2 menit ini, kita mendapat tempat untuk duduk di kursi yang menjadi saksi bisu ke-Hysteriaan para pengunjung yang sudah menjajal Hysteria ini.

Suara gerungan Hysteria terdengar hebat, saat kita sudah memastikan seat belt kita terpasang. Dan tanpa aba-aba dan tiba-tiba, kita terhempas ke atas dengan kecepatan luar biasa. Aku teriak sekeras mungkin, tangan, kaki, dan tubuh ini gemetar luar biasa. Di titik paling atas, aku merasa melayang. Rasanya seperti seat belt udah lepas dan nggak terpasang lagi. Di titik paling atas itu aku juga melihat pemandangan yang cukup indah, pepohonan dan permainan Bianglala.

Di titik itulah aku merasa melayang secara slow motion, kemudian tanpa sedetik kemudian tubuh kita sudah ditarik kembali ke bawah, ditarik lagi ke atas, dan akhirnya bergerak turun, naik, dan turun secara perlahan.
Saat bergerak perlahan itu, aku mendengar suaramu "Udah....Udah...." dan aku tak bisa menahan tawa ku dengan terbahak-bahak :D.




Permainan kedua yang kita pilih adalah Ontang-Anting. Permainan ini kita pilih karena permainan yang lain ngantri semua. Dan kamu bilang, permainan ini nggak menyeramkan.
"Enak kok, kaya di ayun gitu nggak menyeramkan." Katamu.
Dan oke, aku mengiyakan ajakanmu. Setelah mengantri sebentar, akhirnya kita dapat tempat. Kamu memilih tempat di sisi paling dalam.
"Aku dimana?" tanyaku.
"Di situ aja tuh," jawabmu sambil tersenyum.
Dan aku menuruti jawabmu. Duduk di tempat duduk di sisi paling luar. Dan setelah semuanya siap, tempat duduk yang digantungkan dengan pegas tersebut bergerak melingkar. Aku merasa seperti dihempas dan diayunkan. Lama-lama ayunan dan hempasannya semakin kencang dan tinggi. Aku seperti terhempas ke atap-atap kios di depan tempat permainan ontang-anting, dan seperti akan menyangkut di pohon-pohon karena hampir menyentuh pepohonan. Ini semakin kencang, kencang, kencang dan tinggi. Dan aku melihatmu. Kamu hanya tersenyum sambil menikmati ayunannya.
"Kak, serem ini!" Aku berteriak. Tapi kamu hanya tertawa saja menikmati ayunannnya.
Ontang-anting perlahan-lahan turun dan memperlambat lajunya sampai berhenti. Dan aku bangkit berdiri dari tempat duduk dengan kepala pening. Jalanku sudah sempoyongan.
"Kamu pusing?" tanyamu.
"Iya! Kenceng dan tinggi banget! Kamu bilang nggak serem!" Aku menggerutu, sementara kamu hanya tertawa.
"Hahaha....makanya aku milih bangku yang di sisi dalem bukan yang di luar tempat kamu," katanya sambil tertawa.
"Ih...kamu!! Sumpah...jahat banget sama aku! Pantesan kamu tadi senyum-senyum nunjukin bangku buat aku!! Huuuuuuu!!!" Aku masih menggerutu.

Selama aku menggerutu, kamu tetap senyum-senyum sambil memapah aku yang jalan limbung karena kepusingan. Kemudian, kita mencari permainan lain lagi. Di sebelah kanan dari ontang-anting ada permainan Halilintar. Sebenarnya aku pengen coba naik itu, tapiii mengingat antriannyaaa yang juga panjaaaang sekali dan mempertimbangkan kamu yang pake kacamata, akhirnya aku mengurungkan niatku untuk memaksa kamu menaiki Halilintar! Jadinya....kita cuma foto-foto aja deh sambil istirahat.... Ayoo..satu..dua..tiga....senyummmmmm :)


 


















Setelah kita foto-foto ria, kamu mengajak aku untuk bermain airrrrr!! Horeee..... Permainan Arung Jeram. Yang penting, gak terlalu menyeramkan lagi dan yang penting nggak ngebuat pusing lagi. Tapii, lagi-lagi kita dihadapi dengan antrian yang sangaatttt panjang (lagi). 

Sepatu Samaan :) Seperti hati kita yang selalu sama :) Eaaaaaa
Baiklah, kita memutuskan untuk ikhlas bersabar menunggu lagi. Selama antri itu pula, kita saling bercanda tertawa dan membahas lagi kata-kata "Udah...Udah..." -mu yang sangat ber-Hysteria itu. Dan lagi-lagi membuatku tertawa terbahak-bahak. Saat menunggu, kita juga nggak lupa bernarsis-narsis ria lagii...foto lagi dan foto lagi. Tapi, kali ini yang kita foto adalah sepatu kita. Aishhh.... sepatu kita kembaran!!! hehehe.... Sepatu yang kita putuskan untuk membelinya bersama dengan model, warna dan merek yang sama :)

Hasil Foto Shot Dufan
Setelahhhh 2 jam menunggu lagi, akhirnya kita mendapatkan perahu arung jeram berwarna merah. Karena kita hanya berdua, jadi kita bersama pengunjung-pengunjung yang lain deh. Arung jeram ternyata sangat seru dan mengasyikan. Nggak menyeramkan kok. Yang jelas, jeram-jeram airnya membuat kita terhempas-hempas. Karena aku tidak melihat pegangan di perahunya, akhirnya aku pegangan tanganmu saja deh (hehehe padahal modus :P). Airnya mengguyur dari belakang pengunjung di samping kamu. Aku masih bisa tertawa-tawa karena baju dan celanaku belum sama sekali basah terhempas air. Di tikungan selanjutnya, air mengguyur dari belakang kamu. Baju, celana, sepatu, dan tas-mu basah semua. Dan aku tertawa sangat puas sekali. Tapiiiii, menjelang tikungan terakhir, aku tak bisa tertawa terbahak-bahak lagi, kini giliran tubuhku yang terguyur air. Jaket Puma-ku sampai basah kuyup!

Kamu, Aku, dan Arta
Akhirnya kita memutuskan untuk beristirahat lagi setelah menunggu 2 jam dan sambil mengeringkan pakaian kita yang basah kuyup. Tapi, sebelum kita istirahat, kita ketemu Arta temen kampus kamu. Kemarinnya aku mengajak dia untuk ikut kita ke Dufan. Tapi, dia nggak mau ikutan kita karena takutnya mengganggu kebersamaan kita atau karena dia takut menjadi obat nyamuk dan lampu taman kita berdua aja? Padahalkan kalau dia ikut, dia sangat berguna banget buat kita...berguna banget buat foto-fotoin momen kita berdua hahahaha....parah banget ya?! haha Maaf Ta, hanya bergurau.
Dan dia akhirnya jadi juga ke Dufan tapi nggak bareng sama kita, barengnya sama temen-temen kakaknya dan kakaknya. Alhasil kita ketemu Arta hanya untuk mengobrol sebentar dan foto bersama.

Hari sudah semakin gelap, dan waktu sudah menunjukan sekitar pukul 6 sore. Kita memilih untuk naik Kora-Kora. Memang antri lagi, tapi antriannya nggak begitu panjang dan lama seperti Hysteria dan Arung Jeram. Setelah mengantri sekitar lebih dari 5 - 8 menit, kita menaiki perahu ayun alias The Swing Ship. Aku sudah mewanti-wanti terlebih dulu untuk tidak mengambil posisi paling ujung perahu. Kali ini kamu menuruti keinginanku, kamu mengambil posisi di tengah-tengah kapal dan aku mengikuti di sampingmu. Pengunjung lainnya juga segera memenuhi perahu besar. Setelah penuh, perlahan-lahan perahu mulai berayun. Lama kelamaan perahu mulai tinggi, tinggi, dan tinggi sekali berayun. Jantung ini rasanya seperti ditarik ke belakang dan ditarik lagi ke depan. Saking tingginya, aku sampai bisa melihat lantai tempat permainan ini. Bagiku, ini lebih menyeramkan dari Hysteria. Aku sampai teriak-teriak dan minta udahan :D Rasanya seperti ditarik ke belakang sampai tinggi dan dihempas ke depan lagi seperti melayang.Tanganku yang sudah menggenggam besi pengaman seperti belum berpegangan dengan apa-apa.

Kora-kora ternyata menjadi permainan kita yang terakhir untuk kali ini. Tadinya, kita masih mau mengejar permainan Niagara, ke Istana Boneka, dan aku masih ingin naik Tornado. Tapi, apa boleh buat, waktu jua yang memisahkan kita dengan taman Fantasi satu-satunya di Jakarta ini. Jadinya, kita hanya berfoto-foto di komidi putar kuda-kudaan (gak tau nama-nya apa...hehe).

Akhirnya, setelah sholat dan kamu sudah menunjukkan tanda-tanda kemualan alias masuk angin, kita menuju gerbang keluar. Yang aku ingat dan aku suka adalah seharian itu, kamu selalu genggam tangan aku hehehehe.

Okeh sampai jumpa di lain kesempatan! See You! :D






Selasa, 17 Juli 2012


“It’s My Passion”


            Passion bagiku adalah segalanya. Dimana kita bisa mencintai dan menikmati suatu hal pada apa yang kita kerjakan. Passion adalah rasa dimana kita bisa bergairah dan berhasrat melakukan sesuatu. Dan passion ku adalah menulis.
            Entah mengapa aku suka memikirkan hal yang ingin aku ciptakan. Hal-hal yang aku ciptakan memang nyaris mustahil akan nyata, karena sesungguhnya hidup yang nyata hanya Tuhan yang bisa menciptakannnya. Namun, menulis adalah jawabnya. Dimana semua yang ingin kita ciptakan, apa yang kita rasakan, dan apa yang kita semua pikirkan tertuang dalam kata-kata yang terangkai menjadi sebuah kalimat. Menulis adalah wadah penampung semua pikiran dan perasaan dalam diriku.
            Aku mulai menuangkan pikiran dan perasaanku dalam sebuah tulisan pada masa sekolah menengah. Dimana aku merasakan jatuh cinta. Ya ... seperti gadis lainnya, saat jatuh cinta, dirinya akan berubah menjadi seseorang yang sensitif dan puitis. Saat itu, aku tak henti-hentinya menulis, menulis, dan menulis sampai tumpukan-tumpukan puisi hanya menjadi pajangan meja belajarku. Namun, setelah menulis semua puisi-puisi itu hatiku sangat lega.
            Yeah, menulis dapat melegakan hatimu, kawan! Pernahkah merasa hati ini gelisah entah karena sedang berbunga-bungan karena jatuh cinta atau sedang gundah karena ada masalah. Hati ini rasanya tertekan, seolah ada beban berat yang ingin ditumpahkan. Dan pernahkah otakmu serasa penuh, beku, dan ingin meledak? Di keadaan itu, aku mencoba membangkitkan gairahku untuk membuka netbook-ku dan mulai mengalirkan kata-kata sesuai segenap perasaan dan pikiranku. Saat itulah, otakku terasa kembali mencair, syaraf-syaraf yang beku di otak meregang, dan hati ini merasa lega.
            Aku mulai menulis dan merangkai sebuah cerita yang aku ciptakan sendiri sesuai apa yang aku pikirkan. Aku mulai menulis sebuah cerita yang sesuai dengan apa yang aku lihat, apa yang aku dengar.
            Aku mungkin memang pernah bermimpi untuk menjadi penulis sehebat J.K Rowling dengan Harry Potter-nya atau Stephenie Meyer dengan Twilight Saga-nya, tapi sesungguhnya dengan menulis bukan itulah yang aku obsesikan, melainkan hanyalah sebagai pelega hati dan pikiran. Melainkan menulis adalah kegemaran. Menulis adalah passion.
            Namun, ada kalanya ketika aku benci dengan menulis. Ketika otak sudah habis dengan kata-kata, ketika otak sudah tak bisa mendapatkan inspirasi. Aku memaksa otakku bekerja keras mencari, mencari, dan mencari inspirasi untuk aku tuliskan dalam sebuah proyek novelku, tapi hasilnya nihil. Kemudian aku menyadari, bahwa menulis bukan sesuatu yang dipaksakan, tetapi menulis adalah suatu kerelaan. Menulis yang nikmat adalah menulis dengan hati.
            Menyebut “proyek novelku” di paragraf atas, aku jadi teringat dengan novel pertama yang aku buat, novel pertama-ku sekaligus penolakan pertama dari penerbit untukku. Aku memang terlalu dini untuk membuat sebuah novel teenlit, maksudku bukan terlalu dini dari faktor usia, tetapi terlalu dini untuk menentukan karakter dari tulisanku sendiri. Aku hanya berparadigma, aku menulis dan aku akan merasa lega. Jadi, semua kata-kata aku tuangkan dalam cerita teenlit-ku. Kata-kata dalam tulisanku menjadi tidak konsisten. Tak konsisten antara tema yang gaul meremaja dengan karakter bahasa tulisanku yang beraroma puitis. Ketidakkonsistenan itu yang mungkin menjadi penyebab tidak jelasnya tema yang akan aku utarakan di novelku. Aku kemudian berpikir, aku harus segera mencari karakterku sendiri.
            Ibuku sangat senang sekali dan antusias saat aku meminta uang untuk mencetak novel pertamaku. Ia sampai mengantarku dan menemaniku ke rental komputer untuk mencetak cerita dengan ratusan halaman itu. Ibuku sangat mendukungku. Ia juga yang mengantar dan menemaniku menyerahkan naskah novelku ke salah satu penerbit di Jakarta Selatan. Aku sangat antusias, namun terdapat ketakutan dalam diri novelku akan ditolak. Namun, Ibuku berkata “Jangan terlalu berharap, tapi anggaplah ini sebagai pengalaman,”. Baiklah, aku mematri kata-kata ibuku kuat-kuat dalam hati.
Meski ibuku telah berkata jangan terlalu berharap, aku tetap berharap lebih. Berharap suatu kabar baik datang dan menjadikan aku sebagai seseorang yang bisa dipanggil penulis. Satu bulan berselang, bapak petugas pos datang dan mengembalikan naskah novelku dari penerbit itu. Seharusnya aku menuruti kata-kata ibuku, tidak terlalu berharap dan membiarkannya sebagai pengalaman yang berlalu.
Aku memegang novel pertamaku yang telah ditolak itu, berusaha meyakinkan dan membuat diri sendiri percaya diri bahwa novelku layak untuk diterbitkan. Namun, aku segera menyadari baiklah memang mungkin karakter tulisanku serta ketidakjelasan tema dalam novelku menjadi peran utama dari penolakan penerbit.
Sementara itu, ibuku hanya tersenyum tanpa ada raut kekecewaan. Ia hanya berkata, “Jangan menyerah,” yang membuatku kembali bangkit untuk menulis.
            Dari situ, aku memutuskan untuk membuat cerita-cerita pendek terlebih dahulu. Aku perlahan-lahan menemukan karakter tulisanku dibantu oleh Gilang Gumilang, Dosen Feature di kampusku. Bukan kebetulan, aku mengambil kuliah program studi Jurnalistik sesuai dengan passion menulisku. Setiap tugas pasti berkaitan dengan tulisan. Dan saat tugas Feature Human Interest itulah aku menemukan dan menetapkan karakter tulisanku. Dosenku itu berkata, “Tulisanmu melankolis. Teruskanlah, ini menjadi kelebihan tulisanmu.”
            Berangkat dari karakter melankolis, aku mulai lagi, lagi, lagi, dan lagi tanpa putus asa untuk membuat sebuah cerita pendek. Dan akhirnya dari sekian banyak cerita pendek yang aku buat, “Hijau Tua dan Merah Marun” berhasil diterbitkan di sebuah majalah remaja. Aku mendapatkan pelajaran lagi, menulis dengan hati, menulis dengan karakter yang tepat. Dan ibuku sangat senang mengetahui aku berhasil menerbitkan tulisanku di majalah remaja itu.
            Cerpen Hijau Tua dan Merah Marun itu memang aku tulis berdasar hati. Aku saat menulis itu sedang jatuh cinta dengan seseorang dan sedang merasa ada seseorang lain lagi yang memberi perhatian lebih padaku. Seperti yang aku jelaskan di awal, menulis adalah jawaban dari curahan segala perasaan. Sebelumnya, aku minta maaf kalau terkesan curhat soal cinta. Saat itu, aku mencintai seseorang dan tak sanggup untuk menyakiti seseorang lainnya yang memberi perhatiannya padaku. Keduanya memintaku untuk memilih atau lebih tepatnya aku yang harus menetapkan pilihanku. Aku sangat tidak mungkin berkata langsung bahwa aku memilih yang satu dan tidak memilih seseorang yang satunya lagi. Maka, aku membuat sebuah cerpen untuk menjawab pertanyaan mereka. Aku menjawabnya dengan sebuah cerita pendek. Dan kau tahu? Aku senang sekali ketika cerpenku itu diterbitkan di majalah. Dimana keduanya bisa mengetahui apa yang sebenarnya aku rasakan. Dan aku ingin membuktikan pada semuanya yang membaca cerpenku di majalah itu bahwa aku tidak ingin menyakiti keduanya.
            Lagi-lagi, menulis itu sebagai pelega hati.
            Namun, terkadang menulis itu membutuhkan kepekaan yang tinggi. Selain peka terhadap perasaan diri, juga harus peka terhadap perasaan orang lain. Aku pernah membuat suatu tulisan yang menurutku wajar untuk aku tuliskan, tapi tidak wajar untuk orang lain. Maksudku, ia menyindirku untuk lebih berhati-hati mengungkapkan perasaan dalam tulisanku.
            Pengalamanku menulis semakin bertambah di kuliah Jurnalistikku. Berita, Feature, Editorial, Opini sehari-hari aku tulis sebagai tugas harianku. Namun sekarang setelah lulus dari kuliahku, aku memasuki dimensi yang berbeda dari Jurnalistikku, kemampuanku menulis. Awalnya aku berpikir menjadi seorang kreatif di sebuah televisi swasta terbesar di Indonesia, akan mematahkan kemampuanku menulis. Aku hanya berparadigma, menjadi jurnalis adalah satu-satunya cara mengembangkan passionku. Namun, aku kemudian bertemu dengan seorang Produser program-ku, Boim Lebon.
            Yeah, Boim Lebon dengan Lupus-nya yang terkenal itu. Ia yang setidaknya membuka mataku. Ia seolah membuka pikiranku bahwa kita masih bisa berkarya dengan tulisan meski berada di sebuah perusahaan televisi. Boim Lebon selain penulis juga pernah menjadi script writer sinetron komedi untuk beberapa televisi lain sebelumnya.
            Awalnya aku tak terlalu mengenal Boim Lebon. Aku hanya tahu dia adalah produser dari sebuah program yang sedang aku kerjakan. Namun, teman-teman kampusku berkata sekaligus memberitahuku kalau ia adalah seorang penulis terkenal.
            Mas Boim, aku memanggilnya, merupakan sosok yang secara tidak langsung memberikan pedoman untuk aku. Meski ia telah bertahun-tahun berkarya di televisi, ia juga tetap berkarya di bidang tulis menulis. Puluhan buku komedi-nya dan ratusan cerita pendeknya membuktikan kalau dia masih eksis sebagai penulis
            Di sela-sela meeting, aku bertanya padanya soal salah satu cerita pendek komedinya, saking banyaknya, ia sampai lupa apa ia pernah membuat cerita itu. Ia bercerita dengan penuh kelucuan yang ia ciptakan. Sungguh, dengan komedi-nya itu obrolan menjadi sangat ceria dan hangat.
            “Kamu juga suka nulis?” Mas Boim bertanya padaku saat itu.
            “Iya, saya juga suka,” jawabku yakin sekaligus mengangguk.
            “Udah pernah diterbitin?” Tanyanya santai.
            “Iya pernah Mas Boim, tapi baru cerita pendek aja,” jawabku. “Terbit di majalah remaja,” tambahku.
            Mas Boim mengangguk-angguk dan kemudian mengucapkan kata-kata yang selalu aku ingat dan menjadi motivasi aku, “Iya ... terusin aja ... Jangan pernah berhenti nulisnya.”
            Dan yang menganggumkan dari seorang Boim Lebon adalah meski ia sibuk sebagai Produser yang harus memikirkan segala hal untuk programnya, ia masih menyempatkan dirinya untuk mengalirkan kata-katanya membentuk sebuah cerita dan mengeksistensikan dirinya sebagai penulis. Ia selalu menyempatkan dirinya menulis seusai subuh, sebelum mengantar anak-anaknya sekolah dan sebelum dirinya berangkat kerja.
            Setelah itu, aku selalu ingat perkataan Ibuku dan Mas Boim yang aku rangkum menjadi satu kalimat versi diriku, “Jadikanlah sesuatunya sebagai sebuah pengalaman, dan jangan pernah berhenti menulis.”
            Berangkat dari kalimat itu aku selalu menyempatkan diriku untuk menulis di waktu-waktu senggang. Menulis apapun, entah itu cerita, atau hanya curahan hati semata. Aku sering mulai mengalirkan kata-kata di laptopku merangkai menjadi sebuah cerita setelah aku menyelesaikan pekerjaanku atau setelah aku pulang kerja.
            Aku memang pernah bermimpi menjadi seorang penulis. Menjadi penulis terkenal. Menjadi seorang penulis yang pikirannya, kata-kata, kalimat, dan curahatan hatinya dapat dibaca oleh orang lain. Namun, lambat laun aku hanya menyadari bahwa menulis adalah sebagai wadah pelegaan, pencurahan kata hati, penampung segala pemikiran. Menjadi penulis terkenal atau tidak, yang jelas aku adalah seorang penulis untuk diriku sendiri.